Jika Bertanya Sekarang, Jawabannya Kapan? ( Part 6)
Hidup
tak melulu diisi oleh cinta. Hidup juga tak melulu ditemani oleh teman. Sebab, "Me Time" juga bagian dari kehidupan... Jika
rasa ini kau rasa, kau akan tahu jika mereka tak terlalu diperlukan,
Sudahlah!!!! sebenarnya akulah yang tidak diperlukan. Dan hal itu membuatku
menjadi manusia pesimis yang tak percaya pada orang lain lagi. Dan, ini pantas
disebut dengan penyakit traumatis.
Hari
ini aku berjalan di lorong kesepian. Tiada kulihat seorangpun yang berlalu-lalang. Gelap!!!! Hanya ada aku
bahkan bayangankupun tak dapat terlihat. Mungkin gambaran ini cukup memantaskan
situasi hatiku. Sendiri menikmati pemandangan sore mungkin akan membantuku melihat keindahan di balik warna gelap.
“Dek!!!
Tolong belilah...” seorang wanita separuh baya menyodorkan barang dagangannya
kepadaku. Aku hanya melonggo melihatnya dan dia justru menatap aneh ke arahku.
“Hah???”
kinerja otakku belum beraktivitas sempurna dikarenakan oleh lamunan.
“Tolonglah
dek... belilah satu, biar ada ongkosku pulang?”
“Mmmm...
ya... ya...berapa, bu?”
“Sepuluh
ribu aja, dek,”
“HAH???
Sepuluh ribu? Maaf bu saya gak punya uang sebanyak itu. Saya beli setengah saja
ya, boleh?”
“Boleh!!!”
dengan segera aku menyodorkan uang seharga sepuluh ribu. Dan sebuah senyuman
tersungging di wajah ibu itu lalu terlihat sibuk menggerogoh uang percahan di
sakunya.
“Maaf,
dek. Ibu gak punya kembalian,” Dengan terburu-buru dia menambah pasokan jajanan ke dalam kantung plastik di tanganku. Lalu terburu-buru menghilang setelah meminta
maaf berulang kali. Mulutku terkunci, badanku terasa mati. Tak biasanya aku
begini. Laudy yang biasanya akan menuntut keadilan namun sekarang membiarkan
kejahatan kecil lewat bersama angin.
“Huft...
mau gimana lagi?? Apa jajanan ini sepadan dengan kelelahanku nanti??”
Tak
henti—hentinya aku berpikir dengan perbuatan ibu tadi. Mengapa dia tega
membiarkanku berjalan kaki pulang ke rumah sementara aku tak tega membiarkan
dia pulang dengan tangan kosong??
Tapi,
mengapa ibu tadi begitu membanting tulang bahkan melakukan kejahatan? Apakah
dia tidak menemukan cinta sejati yang membantunya keluar dari masalah? Atau apakah
soulmatenya tega membiarkannya berjalan dalam derita kehidupan? Mengapa begitu?
Apakah cinta hanya ada pada saat tahap pengenalan atau biasa disebut dengan
kata “Pacaran”? Jika seperti itu, mengapa juga harus menikah? Apalagi nantinya
menderita dengan tanggung jawab yang lebih besar. Bagaimana perasaan mamaku
saat ini? Apakah dia bahagia hidup bersama orang lain yang kini menjadi suaminya?
Dan apakah dia sedang membanting tulang demi aku yang orang lain ini?
Apa
uang tadi pantas ditukarkan dengan barang yang bahkan tidak kubutuhkan? Kutatap
jajanan yang bahkan takkan bisa mendatangkan tenaga dadakan buat kakiku. Biasanya
dalam kondisi rumit ini, aku akan meminta bantuan Reian atau Cindri. Tapi, aku
rasa saat ini, kelahiranku bahkan hanya sebagai benalu untuk kisah mereka. Suatu
hari nanti, aku akan menjadi apa?? Pantaskah aku bahagia? Atau nanti aku akan
hidup sendiri karena sifatku tak menguntungkan begini? Sebenarnya, cinta itu
apa???
Kuraih handphoneku dan segera mengetik
pesan singkat.
Hallo,
pa?? Sibuk hari ini? Bisa tolong jemput aku di tempat biasa?? Aku tunggu ya!!!!
Dan hanya dialah satu-satunya pria yang
membuatku mengenal apa itu cinta. Apakah suatu saat nanti aku akan dikecewakan olehnya? Sebab rasa percaya saat ini berpotensi besar berakhir dengan kekecewaan, entah berasal dari siapapun dia. Loh??? Kok jadi pesimis begini ya??
Komentar
Posting Komentar