Trauma (Part 10)
Seandainya tiada siang hanya malam saja, pasti takkan pernah lagi kurasa sengatan terik terlebih saat melihat keberadaan mereka yang menyesakkan –Reian dan Cindri-. Aku egois!!! E.G.O.I.S!!!! “Laudy...” dengan setengah berteriak, Helena adik yang terpaut umur yang jauh denganku – 4 tahun- berhasil memecahkan lamunanku tentang hari-hari berat sepanjang sejarah hidupku. “Hei... sopan sedikit sama orangtua!!!” balasku datar dan sedikit memerintah. “Hahahha... tante Laudy,” jawabnya dengan tertawa terbaha-bahak. “Udah deh... gak kelar-kelar ngomong denganmu, yang ada aku makin keriput,” “Kkkyahahahahha.... sorry, sorry, habis dari tadi dipanggilin ‘Kak Laudy, Kak Lau, Kak Dy, tetap aja gak nyahut-nyahut, mikirin apaan sih? Masih masalah yang kemarin itu?? Hmmmm siapa itu namanya, mmm.. Re.. mm,” “Reain??!! IH...Gak sudi !!!” “Ho!!! ...