Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

Trauma (Part 10)

     Seandainya tiada siang hanya malam saja, pasti takkan pernah lagi kurasa sengatan terik terlebih saat melihat keberadaan mereka yang menyesakkan –Reian dan Cindri-. Aku egois!!! E.G.O.I.S!!!!    “Laudy...” dengan setengah berteriak, Helena adik yang terpaut umur yang jauh denganku – 4 tahun- berhasil memecahkan lamunanku tentang hari-hari berat sepanjang sejarah hidupku.      “Hei... sopan sedikit sama orangtua!!!” balasku datar dan sedikit memerintah.      “Hahahha... tante Laudy,” jawabnya dengan tertawa terbaha-bahak.      “Udah deh... gak kelar-kelar ngomong denganmu, yang ada aku makin keriput,”      “Kkkyahahahahha.... sorry, sorry, habis dari tadi dipanggilin ‘Kak Laudy, Kak Lau, Kak Dy, tetap aja gak nyahut-nyahut, mikirin apaan sih? Masih masalah yang kemarin itu?? Hmmmm siapa itu namanya, mmm.. Re.. mm,”      “Reain??!! IH...Gak sudi !!!”    “Ho!!! ...

Special Moment? (Part 9)

     Terik!!!!      Pulang sekolah yang kutunggu-tunggu berubah menjadi mimpi buruk. Panasnya sangat menyengat, hanya letih, lelah yang bisa kurasakan. Setengah berlari, aku mencoba meninggalkan kesan damai.      “Huh!!! Panasnya.. seandainya aku punya cowok pasti aku takkan melalui hari berat ini,” Eits... aku melirik wanita yang ternyata adik kelasku. Hm.. Cantik!!! Tapi sayang, dia terlalu mengharapkan tindakan manis dari seorang pria yang mustahil untuk didapat! Seandainya dia tahu kalau sendiri lebih baik, dia pasti tidak akan mengharapkan keuntungan dari hubungan asmara. Sepersekian detik, kembali lagi kumendengar ucapannya,      “Duh!!! Ganteng banget kakak itu!!!” Hahahaha dalam hati aku hanya bisa tertawa, di terik siang begini, dia masih mampu memerhatikan cowok yang ganteng? Matanya sangat jeli. Dengan rasa penasaran, aku melirik ke arah cewek cantik tadi memandang. WHAT??? Seketika ja...

Sekilas tentang Kamu ( Part 8 )

     “Hom pim pa alaiugambreng, mak lampir pakai baju rombeng, hahahahaha.. Kriseve yang jadi buaya!!!” sorak sorai kami menggema menghiasi langit sore kala itu. Aku masih teringat betapa bahagianya saat dulu. Tertawa tanpa tekanan, yang kutahu hanya bunga-bunga dunia, betapa di hari itu aku sangat tidak tahu apa arti tekanan, putus cinta atau bahkan derita jangka panjang, yang kutahu, hanya derita saat aku yang jadi buaya dan harus berlari mengejar mangsa.     “KYAAA!!!! Kriseve... jangan kejar aku AAAA !!!” dengan histeris,aku mencoba menjauhkan diri dari cengkraman Kriseve. Dengan kaki-kaki yang pendek, kupastikan diriku aman karena menjadi buaya hanya akan membuatku gelisah dan menderita.      “Aku maunya Au yang gantikan aku..” balas Kriseve yang akhirnya mengundang gelak tawa dari teman-teman kami yang lainnya. Dia sangat suka memanggilku dengan sebutan  AU..  Tanpa ada persetujuan,...

Kehadiran di Penghujung Kesabaran ??? ( Part 7 )

     Siapa yang suka menunggu? Dan aku hanyalah gabungan dari kepingan keenganan untuk menanti di seluruh muka bumi. Di tempat ini kumenanti tapi bukan untuk seorang kekasih. Kembali kutilik jam tanganku, dia sudah menunjukkan pukul lima sore. Tak biasanya aku menunggu selama ini, mau protes?? Tidak mungkin, bisa-bisa aku dikutuk alam.      “Hah?! Terkirim tapi belum juga dibaca...” ungkapku kesal dan juga rasa penyesalan. Mengapa aku selama ini bergantung pada orang lain? Kenapa aku tumbuh menjadi anak manja? Usia sudah 17 tahun, seharusnya sudah banyak kejadian yang membuatku menjadi dewasa. Lalu apa ini? Pengen pulang, tapi nggak tahu mau naik angkot apa. Mmm.. apa sifat manjaku ini salah satu alasan Reian mutusin aku? IH...      Kutarik nafas dalam-dalam dan berusaha mencari alasan untuk membuat diriku menjadi kuat.       “Tak apa-apa.. jangan cemas... sebentar lagi papa pasti akan data...

Jika Bertanya Sekarang, Jawabannya Kapan? ( Part 6)

      Hidup tak melulu diisi oleh cinta. Hidup juga tak melulu ditemani oleh teman. Sebab, "Me Time" juga bagian dari kehidupan... Jika rasa ini kau rasa, kau akan tahu jika mereka tak terlalu diperlukan, Sudahlah!!!! sebenarnya akulah yang tidak diperlukan. Dan hal itu membuatku menjadi manusia pesimis yang tak percaya pada orang lain lagi. Dan, ini pantas disebut dengan penyakit traumatis.      Hari ini aku berjalan di lorong kesepian. Tiada kulihat seorangpun   yang berlalu-lalang. Gelap!!!! Hanya ada aku bahkan bayangankupun tak dapat terlihat. Mungkin gambaran ini cukup memantaskan situasi hatiku. Sendiri menikmati pemandangan sore mungkin akan membantuku melihat keindahan di balik warna gelap.     “Dek!!! Tolong belilah...” seorang wanita separuh baya menyodorkan barang dagangannya kepadaku. Aku hanya melonggo melihatnya dan dia justru menatap aneh ke arahku.      “Hah???” kinerja o...