Kehadiran di Penghujung Kesabaran ??? ( Part 7 )



     Siapa yang suka menunggu? Dan aku hanyalah gabungan dari kepingan keenganan untuk menanti di seluruh muka bumi. Di tempat ini kumenanti tapi bukan untuk seorang kekasih. Kembali kutilik jam tanganku, dia sudah menunjukkan pukul lima sore. Tak biasanya aku menunggu selama ini, mau protes?? Tidak mungkin, bisa-bisa aku dikutuk alam.
     “Hah?! Terkirim tapi belum juga dibaca...” ungkapku kesal dan juga rasa penyesalan. Mengapa aku selama ini bergantung pada orang lain? Kenapa aku tumbuh menjadi anak manja? Usia sudah 17 tahun, seharusnya sudah banyak kejadian yang membuatku menjadi dewasa. Lalu apa ini? Pengen pulang, tapi nggak tahu mau naik angkot apa. Mmm.. apa sifat manjaku ini salah satu alasan Reian mutusin aku? IH...
     Kutarik nafas dalam-dalam dan berusaha mencari alasan untuk membuat diriku menjadi kuat. 
     “Tak apa-apa.. jangan cemas... sebentar lagi papa pasti akan datang,” Namun sifat pesimisku mencuat lebih besar, 
     “Kalau aku tetap di sini, dan papa tak datang. Mungkin aku akan diculik trus di... di... apa itu namanya... itu, ih.. di.. mu..ta*i,” bulu kudukku berdiri, dan aku tersadar bahwasannya aku sedari tadi sendirian di tempat ini. Sejujurnya, tak ada yang harus ditakuti dari tempat ini. Jaraknya dari sekolah tak begitu jauh, meski begitu, teman-temanku pasti enggan menginjakkan kaki di tempat ini. Entah apa alasannya?! lagipula aku tak bernafsu menginterogasi mereka lagi. Bagiku tempat ini istimewa dikarenakan alasan sederhana, hanya karena udaranya segar dan tak banyak orang berlalu-lalang, hanya ada tumbuh-tumbuhan sejauh mata memandang. Aku bersyukur menemukan tempat ini, terlebih lagi karena terciptanya bebatuan berukuran besar di bawah pepohonan rindang. Seolah-olah tempat ini disediakan khusus untukku tuk  menghempaskan semua malapetaka di hatiku.
     Kusadari tempat seperti ini cukup memprihatinkan bagi yang lain, jika dibandingkan dengan tongkrongan di kafe -jujur saja, sama sekali tak nyaman-  di sana terlalu berisik, banyak orang mempergunakan haknya berlebih hingga merampas hak orang lain. Tapi, inilah pemikiranku, dan mereka pastilah menganggap aku wanita SMA jadul yang lahir di zaman batu, mmm sepertinya mengasyikkan, kejahatan pasti belum ada. Apaan sih?? Mengapa aku tak bersyukur dengan yang kupunya? Alasan itu seolah-olah mengutuk kisah cinta papa dan mamaku.
     Baiklah, kembali ke topik awal. Dengan segera, kuambil daun yang sudah gugur. Kucabut satu per satu untuk mempertaruhkan langkah yang akan kuambil.
     “Telpon Reian, tidak, telpon dia, atau tidak, telpon dia, atau tidak, telpon dia, atau tidak, telpon dia, atau enggak, telpon dia, atau tidak, telpon dia, atau tidak, telpon dia, atau tidak, telpon dia, atau... TIDAK! Huft...” kutarik nafas panjang lalu melanjutkannya “ Dunia saja tak berpihak. Lagian sih, untuk apa minta tolong sama dia, melihat nomorku memanggilnya saja pasti segera dihiraukannya, Huft.. Apaan sih, lagipula siapa juga yang butuhkan dia?” Di saat bingung harus berbuat apa, lebih baik bernyanyi, mungkin dia bisa meluruskan pikiran sesat. Tapi, otakku selalu saja memikirkan dia. Reian.. Reian.. Reian.. apakah sebenarnya aku tak berarti di mataku sendiri, hingga aku selalu memikirkan dia? Di saat seperti ini??
     “Mmm, tidak salah kalau mengikuti hatikan? Teringat akan masa lalu yang kita lewati terasa indah sejuk meresap di dalam sanubari walau luka sempat singgah hadapi bersama bahagia slalu di hatiku. Kini hilanglah sudah kisah tinggallah kenangan, saat dia datang menghampirimu dengan segala janji, berikan sudah semua atas nama cintanya hapuskan cerita kita,” hanya lagu ASAP ini yang terlintas di benak, dan apalagi ini?? Airmata ini sangat menyebalkan. Dengan sigap, kuhapus airmata dan beranjak berdiri. Dua jam menunggu takkan membuatku pasrah menunggu lebih lama lagi. Aku masih punya kedua kaki dan yang terpenting lagi, senja belum memanggil. Kuteguk habis isi botol minumku dan bergegas berangkat apapun yang terjadi di depan.
Dan hei... seorang wanita cantik berjalan tak jauh dari keberadaan. Dia mengenakan baju kaos, celana jeans dan sepatu kets. Rambut hitam panjangnya dikucir kuda dan beberapa helai anak rambutnya dibiarkannya tertiup angin. Gayanya casual tapi sedap di pandang, -hahaha kayak makan mie sedap aja!- Jika ditanya, dia pasti tidak sungkan menjawab. Dan kumulai dengan lari-lari kecil untuk menggapainya.
     “Permisi kak, maaf kalau mengganggu. Aku boleh bertanya tidak?”
     “Boleh...”
     “Kalau ke perumahan damai, naik angkot apa ya?”
     “Kamu mau ke perumahan damai? Siapa tinggal di sana?”
     “Mmm rumah orangtua kak. Kenapa ya kak?”
     “Ini kebetulan sekali, aku juga mau ke sana. Kenapa kamu tidak ikut denganku saja?”
   “Wah... benarkah?” sesaat aku merasa senang, namun pikiran negatifku muncul mendadak. Seakan bisa membaca maksud mimik mukaku, dia tertawa terbahak-bahak, memberi kesan bersinar di mataku.
     “Tenang saja!!! Apa mukaku seperti tampaknya muka penjahat?”
     “Tidak juga sih, tapi wajah yang seperti itukan pantas terlebih dahulu dicurigai,”
     “Baiklah, tujuanku ke rumah Kris, dia teman sekolahku, kamu pasti kenal diakan?”
     “Hah??? Kris apa?? Kriseve??Mau ke rumah dia? Untuk apa?”
     “Kenapa kaget?”
     “Oh... tidak kok... kalau begitu, kebetulan sekali ya,”
     “Nah... ini rumahku. Kita harus ambil motor dulu,”
     Mungkin ini langkah awalku bertemu dengan orang baru. Mungkinkah dia bisa menjadi temanku? Tak bisa dipercaya orang usil seperti Kriseve punya teman cewek cantik seperti dia. Unbelievable!!!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jika cinta ini awan, benarlah aku sebagai penghalang. Menutup langit cerahmu hingga menerpa dalam butiran airmataku.Hei... bumi bagiku...

Kenangan Tiada Arti juga akan Berarti (Part 3)

Jika Bertanya Sekarang, Jawabannya Kapan? ( Part 6)