Postingan

Aku Memang Manusia Biasa (Part 11)

Aku bukanlah wanita spesial. Wanita spesial apa yang dicampakkan pacarnya dan berpaling pada sahabatnya sendiri? Wanita spesial apa yang sekarang duduk manja di kantin sendirian? Ya... ya... aku memang tidak spesial! “Hey, itu cewek yang namanya Laudy!” “Jadi dia? Mukanya sih biasa aja. Pantes deh Reian mendua!” “Ststst... kalau dia denger gimana? Jangan cari ribut dong! Dengar-dengar dia orangnya semberawut. Entar kalau kamu dilambrak bisa barabe tau!” Dengan ogah kutinggalkan zona nyamanku sendiri demi kesehatan kupingku yang sudah membara. Ngelabrak? Ide bagus! Tapi, sorry! Aku bukan tipekal cewek barbar. Jika diteliti lagi, tampangku sangat biasa saja! Gak seharusnya aku marah karena pernyataan mereka itu memang benar. Kalau tentang Reian mendua sih seantero sekolah juga pada tahu. Jadi kesimpulannya, mereka hanyalah memperjelas hal yang sudah sangat jelas! Kerjaan yang sangat sia-sia! Kedengarannya lucu bagi mereka, telingaku masih jelas menangkap irama tawa merek...

Trauma (Part 10)

     Seandainya tiada siang hanya malam saja, pasti takkan pernah lagi kurasa sengatan terik terlebih saat melihat keberadaan mereka yang menyesakkan –Reian dan Cindri-. Aku egois!!! E.G.O.I.S!!!!    “Laudy...” dengan setengah berteriak, Helena adik yang terpaut umur yang jauh denganku – 4 tahun- berhasil memecahkan lamunanku tentang hari-hari berat sepanjang sejarah hidupku.      “Hei... sopan sedikit sama orangtua!!!” balasku datar dan sedikit memerintah.      “Hahahha... tante Laudy,” jawabnya dengan tertawa terbaha-bahak.      “Udah deh... gak kelar-kelar ngomong denganmu, yang ada aku makin keriput,”      “Kkkyahahahahha.... sorry, sorry, habis dari tadi dipanggilin ‘Kak Laudy, Kak Lau, Kak Dy, tetap aja gak nyahut-nyahut, mikirin apaan sih? Masih masalah yang kemarin itu?? Hmmmm siapa itu namanya, mmm.. Re.. mm,”      “Reain??!! IH...Gak sudi !!!”    “Ho!!! ...

Special Moment? (Part 9)

     Terik!!!!      Pulang sekolah yang kutunggu-tunggu berubah menjadi mimpi buruk. Panasnya sangat menyengat, hanya letih, lelah yang bisa kurasakan. Setengah berlari, aku mencoba meninggalkan kesan damai.      “Huh!!! Panasnya.. seandainya aku punya cowok pasti aku takkan melalui hari berat ini,” Eits... aku melirik wanita yang ternyata adik kelasku. Hm.. Cantik!!! Tapi sayang, dia terlalu mengharapkan tindakan manis dari seorang pria yang mustahil untuk didapat! Seandainya dia tahu kalau sendiri lebih baik, dia pasti tidak akan mengharapkan keuntungan dari hubungan asmara. Sepersekian detik, kembali lagi kumendengar ucapannya,      “Duh!!! Ganteng banget kakak itu!!!” Hahahaha dalam hati aku hanya bisa tertawa, di terik siang begini, dia masih mampu memerhatikan cowok yang ganteng? Matanya sangat jeli. Dengan rasa penasaran, aku melirik ke arah cewek cantik tadi memandang. WHAT??? Seketika ja...

Sekilas tentang Kamu ( Part 8 )

     “Hom pim pa alaiugambreng, mak lampir pakai baju rombeng, hahahahaha.. Kriseve yang jadi buaya!!!” sorak sorai kami menggema menghiasi langit sore kala itu. Aku masih teringat betapa bahagianya saat dulu. Tertawa tanpa tekanan, yang kutahu hanya bunga-bunga dunia, betapa di hari itu aku sangat tidak tahu apa arti tekanan, putus cinta atau bahkan derita jangka panjang, yang kutahu, hanya derita saat aku yang jadi buaya dan harus berlari mengejar mangsa.     “KYAAA!!!! Kriseve... jangan kejar aku AAAA !!!” dengan histeris,aku mencoba menjauhkan diri dari cengkraman Kriseve. Dengan kaki-kaki yang pendek, kupastikan diriku aman karena menjadi buaya hanya akan membuatku gelisah dan menderita.      “Aku maunya Au yang gantikan aku..” balas Kriseve yang akhirnya mengundang gelak tawa dari teman-teman kami yang lainnya. Dia sangat suka memanggilku dengan sebutan  AU..  Tanpa ada persetujuan,...

Kehadiran di Penghujung Kesabaran ??? ( Part 7 )

     Siapa yang suka menunggu? Dan aku hanyalah gabungan dari kepingan keenganan untuk menanti di seluruh muka bumi. Di tempat ini kumenanti tapi bukan untuk seorang kekasih. Kembali kutilik jam tanganku, dia sudah menunjukkan pukul lima sore. Tak biasanya aku menunggu selama ini, mau protes?? Tidak mungkin, bisa-bisa aku dikutuk alam.      “Hah?! Terkirim tapi belum juga dibaca...” ungkapku kesal dan juga rasa penyesalan. Mengapa aku selama ini bergantung pada orang lain? Kenapa aku tumbuh menjadi anak manja? Usia sudah 17 tahun, seharusnya sudah banyak kejadian yang membuatku menjadi dewasa. Lalu apa ini? Pengen pulang, tapi nggak tahu mau naik angkot apa. Mmm.. apa sifat manjaku ini salah satu alasan Reian mutusin aku? IH...      Kutarik nafas dalam-dalam dan berusaha mencari alasan untuk membuat diriku menjadi kuat.       “Tak apa-apa.. jangan cemas... sebentar lagi papa pasti akan data...