Aku Memang Manusia Biasa (Part 11)
Aku bukanlah wanita spesial. Wanita spesial apa yang
dicampakkan pacarnya dan berpaling pada sahabatnya sendiri? Wanita spesial apa
yang sekarang duduk manja di kantin sendirian? Ya... ya... aku memang tidak
spesial!
“Hey, itu cewek yang namanya Laudy!”
“Jadi dia? Mukanya sih biasa aja. Pantes deh Reian mendua!”
“Ststst... kalau dia denger gimana? Jangan cari ribut dong!
Dengar-dengar dia orangnya semberawut. Entar kalau kamu dilambrak bisa barabe
tau!”
Dengan ogah kutinggalkan zona nyamanku sendiri demi
kesehatan kupingku yang sudah membara. Ngelabrak? Ide bagus! Tapi, sorry! Aku
bukan tipekal cewek barbar.
Jika diteliti lagi, tampangku sangat biasa saja! Gak seharusnya
aku marah karena pernyataan mereka itu memang benar. Kalau tentang Reian mendua
sih seantero sekolah juga pada tahu. Jadi kesimpulannya, mereka hanyalah
memperjelas hal yang sudah sangat jelas! Kerjaan yang sangat sia-sia!
Kedengarannya lucu bagi mereka, telingaku masih jelas menangkap irama tawa
mereka. Canda mereka yang mengatakan bahwa masa SMAku jelas sangat gelap
kembali terungkit ke permukaan! Semoga kesehatanku tetap terjaga!
Mereka sangat tidak kukenal. Tapi kenapa mereka dengan rasa
sukarelawan memasukkan aku dalam kisah SMA mereka? Aku ingin sekali berteriak
mengatakan padanya bahwa tampang biasa itu berkat buatku. Biasa bukan berarti
jelek bukan? Lagipula mana ada manusia yang seperti itu. Jangan pernah merasa
rendah diri! Rasa jelek itu hadir dari pencitraanmu kepada dirimu sendiri. Di
saat hanya satu manusia saja yang menyebut pujian, entah itu kata “cantik,
manis, lucu, imut dan sejenisnya” maka kamu termasuk kategori itu. Paling
tidak, keluargamu pastinya menilaimu seperti itu. Jadi, kenapa harus berkecil
hati?
Jadi, hari ini, manusia biasa seperti aku mendapat suatu
kelegaan besar yaitu momen saat kakiku menginjak keluar dari pagar sekolah.
Rasanya tiada tara! Aku pernah makan mie ayam 2 porsi tanpa pause, tapi rasanya
beda dengan perasaan hari ini. Dulu, aku suka jika hidupku berjalan mulus,
tanpa kerikil juga polisi tidur. Aku ingin, di saat aku terbangun dari tidur
semua sudah tersedia seperti yang aku mau! Tapi, karena hari ini, aku ingin
sekali berjalan dari jalan yang penuh bebatuan, kerikil juga polisi tidur itu.
Karena, berkat hal itu, aku menemukan sesuatu yang baru, aku mendapat
pengertian bahwa kehadiran mereka membuatku membatasi diriku, entah itu
pembatasan dalam kelakuanku juga dalam setiap kata dari mulutku. Karena hal itu,
aku mau mempertahankan hal yang sudah kulakukan dengan kerja keras -walau
levelnya masih berbeda dari kerja keras yang sebenarnya.
Semua tentang hari ini. Aku mendapati bahwa tak semua orang
mau mengerti kamu, terkhususnya dia yang tidak mengenalmu. Mungkin ada beberapa
orang tapi gak bisa disama-ratakan karena mereka berjalan dengan apa yang
diperintahkan hati atau mungkin pikirannya. Saat aku mengalaminya, aku merasa
dia sungguh jahat, aku juga bertanya -ya tentu saja dalam hatiku- “Mengapakah
kamu memperburuk keadaanku? Memangnya apa yang pernah kuperbuat hingga kamu
memojokkanku? Bisakah kamu membaca situasi tentang hancurnya perasaan seseorang
karena candaanmu?” Saat itu aku sangat ini mengingat wajahnya –dan ternyata gak
berhasil juga- aku ingin tahu wajahnya dan akan mengingatnya. Tapi, setelah
kupikir-pikir. Untuk apa aku melakukannya? Toh juga aku sendiri yang rugi,
karena kembali ke awal bahwa dia bertindak sesuai kemauannya sendiri. Seperti
aku bertindak sesuai apa yang kuyakini benar.
Terlepas dari konflik ketidaksukaanku terhadapnya dan juga
akibat kemuakan menikmati kemesraan sang mantan. Aku mencoba melihat sekitarku
agar hari ini aku tidak merusak hariku sendiri. Aku melihatnya, seseorang yang
bahkan tidak aku kenal. Dia tersenyum dalam gendongan seseorang. Dia bukan anak
kecil –seperti aku yang suka digendong saat kecil dulu- dia juga bukan seorang
wanita yang sedang bergelayut manja dalam dekapan pacarnya tapi dia seorang
cacat yang bahkan tidak bisa berjalan, tapi dia masih bisa menorehkan senyum
yang bahkan jarang kutunjukkan belakang ini. Lalu, kenapa aku harus membenci?
Kenapa aku harus marah? Sebenarnya, aku marah karena apa? Apa karena perjalanan
cintaku berujung perpisahan? Atau karena hinaan seseorang yang bahkan tidak aku
kenal? Atau karena aku gak bisa membuat diriku bahagia terlepas oleh perjalanan
hampa? Entahlah.
Komentar
Posting Komentar