Jika cinta ini awan, benarlah aku sebagai penghalang. Menutup langit cerahmu hingga menerpa dalam butiran airmataku.Hei... bumi bagiku...

     Sepersekian detik, awan yang kutunjuk sudah berubah bentuk.  Kuberharap hatimu seperti itu, memutuskan tuk  memandangku lalu tersenyum riang ke arahku. Ya... hanya aku.
     Sejujurnya, dia tak bisa disamakan denganmu. Hatimu, perasaanmu, dirimu miliknya. Hanya pada langit cerah itu, keindahan tak tertandingi, sudah sepantasnya kamu agungkan dan memujanya tak henti-henti.
     Bumi, langit mereka selalu sama, tak berubah, kokoh seperti sedia kala. Dan awan?? Apa yang terjadi kepadanya?? Selalu berganti dan menghilang dihembus angin. Lalu siapa angin? Hmhm.. ya, dialah waktu bukan aku.
     Angin itulah yang hempaskanku, mengubah caraku menatapmu. Bukan cinta hanya  bentuk kehampaan... salahkah jika tiada rasa yang bisa diutarakan? Tidak!! Kucari angin tuk biarkan jiwaku bergeming, tiada keputusan hebat tuk mengakhiri dan kuputuskan tuk mencari beban agar kuubah diri jadi butir-butiran air.
     Kuberharap, di saat kamu menutup mata. Tangisan ini tak seberat yang kurasa. Tetes demi tetes,  memancarkan asa yang tak terlihat.  Air dalam jiwaku kuingin tak pengaruhi perasaanmu kepada langit itu.
     Duka ini yang kamu cari! Luka ini yang kamu mau! Bukan berasal dari hatimu tapi derita dalam batinku. Menyingkirkan aku dalam pandanganmu. Menerima tangisan yang bahkan tak pengaruhi hidupmu.
     Aku pergi!! Berhenti jadi parasit *walau memang aku tak seperti itu*, bagaimanapun, tanggapanmu membenarkan kesalahan penilaianku. Ketahuilah, mudah bagiku tuk menghilang,  bahkan jejaknya kubawa serta mengarungi lautan. Sesungguhnya tak ada niat menjadi awan-gemawan di setiap kisah cinta seseorang. Inginku merasa dipandang seperti langit cerah. Tersenyum melihat bumi nan indah dari atas sana.  HEAD IN THE CLOUDS.

Komentar

  1. bacanya harus make logika banget...
    astaga, bagus banget memancarkan perasaan mu saat ini,
    mbak, buat cerpen dulu mbak pasti cocok banget,,
    :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih Dela Sefa buat komentar dan masukannya..
      :)

      Hapus
  2. Thanks ya Cila :)
    I'll wait your article

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenangan Tiada Arti juga akan Berarti (Part 3)

Jika Bertanya Sekarang, Jawabannya Kapan? ( Part 6)