Jomblo Sekarat Mencoba Bahagia (Part 1)
Takkan mungkin aku tersenyum walau dunia
mengharapkan senyum manis dariku.
“Tumben terlihat murung?”
Satu pertanyaan mengacaukan kinerja sempurna jantungku. Bayangkan, pertanyaan
sama berasal dari 35 orang yang berbeda, jawabannya sangat singkat tapi
sungguh menyiksa. Mutlak sangat menyebalkan!!!!
“Mmmm...Laudy jomblo lagi !!!”
Tiada tanya tiada kata, penarikan kesimpulan terindah. Sesak sih sesak, hanya
saja kata “putus” tidak jadi penjelasan.
“Sudah.. jomblo juga bagus kok,”
“Sendirinya juga jomblo,”
“Eits.. kita gak setara lagi,” katanya lalu berdehem hingga membuat otot
leherku bergerak menuju wajah kemilaunya.
“Aku pasti beritahu siapa dia asalkan kamu harus jadi jomblo bahagia dulu,”
“Jadi aku disebut jomblo penuh derita nih?” lanjutku seraya menundukkan
kepalaku ke atas meja.
Mencintai seseorang hingga menjalin hubungan spesial cukup lama membuat hatiku
merasa dia milikku satu-satunya. Tiada yang lain. Hanya dia!! Tapi, siapa
sangka “PUTUS” dilontarkannya begitu saja. Sungguh SIAL!!!!
"Astaga... patah hati sih boleh. Tapi gak harus kayak gini!!” Cindri
merampas handphone yang kugenggam dan melihat tumpukan kiat-kiat cara move on
dalam hitungan 3 hari.
“Aih!!! Gak perlu suntikan buat hatimu damai. Ini namanya jomblo sekarat!”
Mataku yang semulanya menatap lantai sekarang menatap mata Cindri lekat-lekat.
Kesunyian mencekam. Pemikiran berkecamuk untuk memulai perdamaian. Tak tahan
dengan keheningan, Cindri mengenggam tanganku dan memulai perbincangan hangat.
“Aku akan selalu ada untukmu. Ingat janji kita dulu? Sedih, senang, kamu hanya
perlu datangi aku dan aku selalu siap mendengarkan keluh kesahmu. Ya??!!”
Walau senyuman Cindri mencairkan suasana namun duniaku masih terlihat suram.
“Kumohon... tinggalkan aku sendiri!!!” pintaku menahan isakan tangis lalu
memalingkan wajahnya.
Mengapa terasa sakit?? Menyamar jadi
malaikat di hadapanku, seolah mengerti situasiku. Kita sahabatkan? Tapi,
mengapa kamu tega merebut dia dari sisiku?? Mengapa??? Karena kamu, aku percaya
semuanya hanya mimpi. Mencoba menghibur atau malah ingin menghancurkanku.
PENJILAT!!! PERUSAK HUBUNGAN!!!!Mengapa tidak berani mengungkapkan kekecewaan
hatiku ini? Walau hati ingin, tapi mulut hanya diam membisu. Payah... Aku
memang gadis payah. DIKHIANATI cara putus paling KEJI !!
Hari berganti menjadi minggu, waktu terus berjalan tanpa sepatah kata dariku
juga darinya walau kami tetap duduk bersebelahan. Namun, hening ini bukan
berarti tiada kata, sebaliknya karena terlalu banyak ucapan yang tak
terkatakan. Entah takut akan mengecewakan atau dikecewakan saat memulainya.
“Maaf!!!” aku tak percaya di awal minggu pertama, Cindri menghampiriku lebih
dekat sambil memberikan bingkisan kado berucap maaf.
“Apa maksudnya?"
“Aku menyesal.. aku berharap kita seperti dulu lagi,”
“Apa maumu? Apa kamu berharap sesuatu bisa membaik?”
“Maafkan aku... kumohon... mengertilah situasiku. Aku dan dia sudah berakhir.
Aku hanya ingin, kita bisa berbagi seperti dulu lagi,”
“Masa bodoh, aku sudah tak peduli lagi. Singkirkan kadomu dari hadapanku.
Hatiku takkan luluh hanya karena benda mati seperti itu. Permisi,” dengan penuh
amarah aku meninggalkan Cindri dalam diam, kuberharap balasanku setimpal dengan
perlakuannya, dan aku tahu, sepeninggalanku, Cindri berlinangkan airmata.
Apakah pelajaran kali ini membuatnya merasa menyesal?
Tongkrongan di kantin sambil menikmati Cappucino menjadi pelarian. Aku menyesal
membuat kebiasaan rutin ini, sebab kini kulihat dia mendekat sambil tersenyum
tanpa memperlihatkan masalah.
“Mengganggumu? Maafkan aku. Untuk kali ini, aku melanggar keinginanmu. Aku
hanya ingin meluruskan sesuatu tentang aku, kamu dan Cindri,”
Aku diam, membiarkannya berbuat sesukanya tanpa melihatnya. Memang benar, jika
aku meminta untuk tidak bertemu untuk sementara waktu. Mungkin, ini layak
disebut dengan kesempatan kedua.
Bukan karena kekenyangan minum cappucino, tapi aku merasa mual saat mendengar
penjelasan Reian yang panjang lebar. Tentang hubungan segitiga yang
menyakitkan.
PLAK!!!!! Tanpa sadar tanganku mendarat di pipi mulusnya saat dia selesai dalam
narasi panjang.
"Tak hanya tamparan.. semua hal menyakitkan akan kulakukan kalau kamu
sakiti Cindri. Mengerti???”
PAYAH.. aku memang payah. Dengan
mudahnya aku berpikir negatif tentang Cindri. Padahal dia sudah berteman sejak
hari pertama di SMA. Kenapa aku tak percaya hanya karena sisi cemburuku
padanya?
Dengan susah payah aku berlari menemui Cindri yang berdiam diri di kelas
menyesali perbuatannya, segera kupeluk dia erat. Awalnya Cindri terheran-heran
lalu menyunggingkan senyum dan balik memelukku.
“Jika aku meminta, maukah kamu jadi sahabatku lagi? Bersenang-senang seperti
dulu lagi?” Cindri tertawa bahagia lalu menegaskan jawabannya, “Tentu saja...
aku sudah berakhir dengan Reian, jangan khawatir!!”
“Mmmm... apa kamu yakin?? Sebaiknya pikir-pikir dulu. Dia itu the best
loh,yah.. walaupun sudah jadi mantan,” pekikku sambil tertawa dan dibalas
Cindri dengan tawa terbahak-bahak.
Keegoisanku menandakan kelabilanku. Tidak tahu situsi namun menyimpulkan tanpa
bukti. Sakit hatiku tak seimbang dengan Cindri. Perasaan kecewaku hanya karena
diputusi. Tapi dia?? Dia harus mendengarkan curhatanku, melihatku dengan Reian,
yang paling menyakitkan hati, saat dia menemui Reian ketika aku
memperkenalkannya sebagai pacarku. Berpura-pura bahagia meski butiran
airmatanya melebihi tangisanku!!!
First Love!! Tiada yang salah, hanya kehadiranku yang jadi penghalang, YA.. aku
hanyalah pilar. Mereka sebenarnya begitu dekat dan saling bersandar dengan satu
pilar. Aku dan mereka!!
Rasa sayang Cindri mencegah Reian meminta putus denganku. Dan terjadilah
semuanya... aku terlanjur jatuh hati pada pria yang menoleh pada sahabatku
sendiri. Tak mengapa, sebab bahagia juga menghampiri para jomblo. Aku yakin
itu!!!
Start to read 😊
BalasHapusI hope you enjoy it..
Hapus:)