Aku Laudy, Wanita SMA Biasa yang Mencoba Meneguhkan Diri dari Patah Hati ( Part 2)
Kamu jomblo??? Hahaha... masih jomblo??? Di saat semua teknologi sudah secanggih ini?? :D kamukan bisa mencari kenalan melalui akun sosmed. Bisa juga mengenal seseorang lebih dalam dari teknologi tercanggih. Cari tahu nomornya dan YAP.. menjadi perbincangan yang panjang!!
Sayangnya kamu takkan berhasil hanya dengan cara itu, sudahlah...kenyataannya kamu sedang diajari seorang jomblo!! -_-
Diakhiri oleh cerita yang menggenaskan walau awalnya sangat manis. Orang yang kusuka pada pandangan pertama akhirnya menjadi pacarku. Pacarku menjadi mantanku dan dia jadi pacar temanku, semoga saja tidak akan menjadi mantan temanku.
Sangat mudah memutuskan merelakan cinta pada teman, dan teramat mudah mengatakan aku seorang jomblo yang berbahagia. Sebaliknya, pertarungan batin menguncang jiwa. Tiada seorangpun yang tahu bahkan hanya sekedar ingin mau tahu. Hanya aku!!!!
Saatnya melewati hari dengan status JOMBLO. Ya... resmi sudah menjadi jomblo. -_-.
“Pagi.....” sahutku ramah dengan senyuman manis walau terbentuk lengkungan paksaan. Dan hellooww!!! Tiada sahutan. Apa yang salah?? Kembali kupasangkan senyuman. Dan mereka mulai berbisik. Pasrah dengan penolakan, mengarah ke bangku belajar menjadi keputusan terbijak.
“Hello Cindri???” sapaku sesaat setelah duduk. Mencoba seramah apapun tetap saja senyuman datar yang kudapat darinya.
“CIN... apa ada yang salah dariku? Tak hanya dari mereka, darimu juga!!!
“Yang salah?? Nggak ada...”
“Saat wanita berkata nggak ada, itu berarti ada masalah besar. Ayolah.. aku takkan marah!!! Lebih baik aku tahu kenyataan daripada hidup dalam kebingungan,kan?”
“Gak ada yang salah kok Laudy. Kamu tenang aja ya??!! hanya salah paham saja. Aku akan memberitahumu setelah tahu kenyataannya, bolehkan?”
“Baiklah, asalkan tidak terlalu lama. Kamu tahu kan?? Aku tak suka menunggu... lagipula, sebelum waktu ngomong, lebih baik aku tahu langsung darimu..”
“Ya... aku berjanji..” Cindri mengajungkan kelingkingnya tanda dia akan memegang janjinya. Hmmm nampaknya bukan janji palsu...
Janji tetaplah janji. Rasa percaya padanya membuatku terbiasa akan tatapan jijik. Huft... rasa sakit yang menginginkanku segera lari dari tempatku berdiri. Dan bagaimana caranya Cindri mencari tahu? Haruskah aku percaya? Sementara janji sudah kuanggukkan??
“Maaf ya Laudy. Ada yang mau kukatakan...” Cindri tiba-tiba saja mengunjungi kediamanku tanpa pemberitahuan.
“Kamu kelihatan begitu tegang. Ada masalah apa Cin?” ujarku lalu mempersilahkannya duduk dengan aman.
“Dy.. siapa yang lebih kamu percaya?? Aku atau Reian atau teman yang lainnya??”
“Hah??? Kamu kenapa?? Maaf saja, aku akan langsung gak enak badan walau hanya sekedar mendengar namanya,” kataku acuh tak acuh. Bagaimanapun, perasaan kecewa belum hilang 100%. Hatikan butuh proses untuk tertata rapi.
“Dy... kumohon jawab aku!!!”
“Tentu saja kamu. Aku sulit mempercayai orang yang sudah berbohong padaku. Ya... walaupun kamu juga sekasus dengan , tapi...”
“Tapi????”
“Kebohonganmu untuk kebaikanku, kan?”
“Dy.... apa kamu...akan tetap per..caya, walaupun aku menebar gosip tentangmu d...di.. sekolahan?”
DUAR !!! seakan disambar petir di sore hari yang cerah, jantungku berdesir dengan cepat, seakan tahu kalau aku akan menghadapi situasi sulit.
“Tentu sa.. saja. Aku gak bakalan percaya,” kulihat Cindri tak berani menatap wajahku.
“Laudy... ma.. maafkan aku!!! Aku salah!!!! Mereka bersikap begitu hanya karena termakan gosip dariku. Aku sudah mencoba memperbaikinya tapi aku semakin tertekan.. aku.. aku harus gimana???.. ma... maafkan aku..”
Aku hanya diam mematung. Hanya bisa melihat Cindri yang bahkan sedari tadi tidak melihat wajahku.
“Begitu??” dengan cuek aku hanya bisa berkata yang tak jelas ke arah mana sementara hatiku digeluti beribu-ribu pertanyaan.
“Aku tak mengira semua bakalan seperti ini. Maafkan aku, Dy,”
“Aku akan melihat situasiku kedepan. Apa kamu pantas dimaafkan atau tidak. Baiklah, percakapan kita selesai,”
“Laudy...”
“Sudahlah... sebenarnya aku tak mengerti maksud pembicaraanmu. Tak perlu khawatirkan keadaanku. Oh iya...” Cindri akhirnya menatap wajah seriusku dan melihat tatapan tajam milik mataku. “Tak perlu menepati janjimu lagi, aku bisa menyelidikinya sendiri. Akan sulit meletakkan kepercayaan pada orang yang tak bisa menepati janji. Akhiri saja. Baik kamu dan Reian, dan juga mereka. Semuanya sama... jangan paksa aku untuk percayai siapapun lagi. Kamu boleh keluar sekarang!!”
Bukan maksud hati melukai orang yang kusayangi. Tapi, rasa sakit tak bisa kubendung lagi. Aku mengerti arah dan tujuan permohonan maafnya, tapi pura-pura tidak tahu lebih baik daripada menampakkan kekecewaan yang mendalam. Sepertinya segala hubunganku berakhir tragis. Baik hubungan cinta dan juga pertemanan!!! Mungkin, aku wanita kikuk hingga tak pandai menjaga ikatan.. Mau gimana lagi?? Pada akhirnya tetap sama. Semua manusia pasti berakhir dengan kesendirian !!! Sepertinya, aku akan segera terbiasa.
Kreatif bnget untuk memotivasi mbak..
BalasHapusThanks Cil :) wkwkwk
BalasHapus