Kenangan Tiada Arti juga akan Berarti (Part 3)



    

     Lembaran tipis ini bercerita tentang aku dan kamu. Tipis memang tapi buatku merasa sesak, membiarkannya membusuk dimakan rayap akan jadi pembalasan yang sempurna. Memang tipis dan terlihat sederhana, hanya hitungan bulan saja namun bayangnya masih terbayang ke arah manapun aku melihat. Tidak apakan Reian jika aku mengingat kisah tentang kita? Tenang saja.. peristiwa menyakitkan takkan menambahkan bumbu cinta. Saat putus ??? Hm cerita yang teramat tepat...
     “Apa kamu masih menyimpan rasa yang sama saat di hari-hari pertama kita jadian?” Aku bertanya semata-mata untuk memecahkan keheningan. Entah dimulai darimana, aku merasa cinta ini hanya milikku seorang. Namun dia hanya terdiam tak berkomentar. Menghabiskan waktu berdua namun aku merasa hanya duduk sendiri saja.
    “Aku tidak tahu,” hanya itu yang kudengar, tampaknya seperti tak nyata sebab seketika saja dia seperti hilang ditelan bumi. Hening kembali. Fokusku kini teralih ke suara detikan jam di tangan yang bergema semakin nyata.
     “Mungkin ini sedikit menyakitkan. Tapi akan lebih menyakitkan jika di simpan terlalu lama,”
     “Apa yang kamu ingin coba katakan?”
    “Laudy. Aku sayang kamu. Tapi, entah mengapa rasa sayang yang kurasa semakin mengarah ke hubungan persahabatan,” Mungkin dalam hitung-hitungan aku butuh waktu memikirkan hasil 2+8+9-9. Tapi, saat seseorang berkata seperti yang dikatakan Reian, aku persis tahu arah yang ingin diselesaikan olehku dan olehnya.
     “Aku mengerti. Tapi, kenapa? Apa secepat itu kamu merubah hatimu?” kedengarannya santai tapi siapa yang tahu kalau hatiku tersayat oleh maksudnya.
     “Apa karena kamu sudah menemukan sesuatu yang baru?” Dia menunduk, hanya berani beradu pandang pada bumi yang hanya terdiam. Sesaat aku melihat dia mengangguk pelan. Setelah menghela nafas, aku mencoba memberanikan diri pada kemungkinan terburuk yang mungkin akan mengganggu kenyamanan tidurku.
    “Yah... mau gimana lagi. Manusia bisa berubah, tidak menutup kemungkinan dari perasaan cinta hingga hambar. Hatiku saat ini mungkin menggambar jelas semua tentangmu. Tapi, cinta sepihak memang terlalu menyakitkan,”
     “Laudy... kamu memang jadi pihak yang terluka tapi jika diteruskan kita berdua akan terlibat cinta semu,”
     “Aku mengerti, terimakasih buat segalanya. Untuk beberapa waktu ke depan kita pasti akan sering bertemu. Aku merasa, lebih baik kita tidak usah berteman dulu,”
     “Aku nyaman denganmu. Kenapa harus seperti itu?”
     “Terimakasih. Nyaman sebagai teman sangat menyakitkan. Aku yakin kamu tahu persis kalau aku peduli padamu. Tapi, tidak berteman setelah kita putus membuatku mandiri dan kembali percaya pada diriku sendiri,” kutelan kembali ludahku dan mencoba tersenyum sambil melihat kedua bola matanya tanda kesanggupanku.
    “Hingga suatu hari nanti saat kita bertemu, kita berdua sadar kalau kita memang diciptakan hanya sebagai teman. Ya sudah aku harus pergi,”
    Dan hanya hitungan hari, kamu dan Cindri, dua manusia yang kucinta yang tega menyakiti perasaanku menjalin hubungan. Dan aku? Tertinggal sebagai kenangan. Kenangan yang tidak berarti. Sangat tipis sekali, bahkan takkan pernah terngiang atau melintas di dalam benak kalian. Tapi, suatu hari nanti, perasaanku terhadapmu akan berubah. Perasaan cintaku akan hambar. Dan perasaan kecewaku pada Cindri akan jadi pembelajaran berharga. Kini dan nanti pasti membuahkan hasil yang berbeda. Aku akan menantikan hari itu. SAYONARA!!!

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jika cinta ini awan, benarlah aku sebagai penghalang. Menutup langit cerahmu hingga menerpa dalam butiran airmataku.Hei... bumi bagiku...

Jika Bertanya Sekarang, Jawabannya Kapan? ( Part 6)