Sekilas tentang Kamu ( Part 8 )
“Hom pim pa alaiugambreng, mak lampir pakai baju rombeng, hahahahaha.. Kriseve
yang jadi buaya!!!” sorak sorai kami menggema menghiasi langit sore kala itu.
Aku masih teringat betapa bahagianya saat dulu. Tertawa tanpa tekanan, yang
kutahu hanya bunga-bunga dunia, betapa di hari itu aku sangat tidak tahu apa
arti tekanan, putus cinta atau bahkan derita jangka panjang, yang kutahu, hanya
derita saat aku yang jadi buaya dan harus berlari mengejar mangsa.
“KYAAA!!!! Kriseve... jangan kejar aku AAAA !!!” dengan histeris,aku mencoba
menjauhkan diri dari cengkraman Kriseve. Dengan kaki-kaki yang pendek, kupastikan
diriku aman karena menjadi buaya hanya akan membuatku gelisah dan menderita.
“Aku maunya Au yang gantikan aku..” balas Kriseve yang akhirnya mengundang
gelak tawa dari teman-teman kami yang lainnya. Dia sangat suka memanggilku dengan sebutan AU.. Tanpa ada persetujuan, dia mengolokku sambil berlagak kesakitan. "Au.. Au.. " ya.. Seperti itu!
“Maaaaa...maa.....” sambil berlari, aku meneriakkan sebutan itu, hanya itu yang bisa membuatku tenang.Meski hatiku teriris tetap saja mengejarku menjadi pilihan yang terbaik. Tak ayal, dalam setiap permainan aku tak pernah menang. Dan yang paling kusesalkan hanyalah Kriseve!!!
“Maaaaa...maa.....” sambil berlari, aku meneriakkan sebutan itu, hanya itu yang bisa membuatku tenang.Meski hatiku teriris tetap saja mengejarku menjadi pilihan yang terbaik. Tak ayal, dalam setiap permainan aku tak pernah menang. Dan yang paling kusesalkan hanyalah Kriseve!!!
BRUAK!!!
Aku kalah!! Aku terjatuh di saat-saat akhir, dan ini pertanda hidupku sudah
tamat.
“Hahahahaha!!! AU!!!!!” gelak tawa Kriseve mengundang airmata dari
pelupuk mata milikku.
“Hahahahaha!!! AU.. nangis ya, itu aja kok nangis ? Cengeng!!!" bukannya menolong, dia malah tertawa
sambil memegang perutnya.
“Kan sudah aku bilang, perempuan cengeng gak boleh ikutan,” teriaknya. Dengan
nanar, kupandangi dia dan juga teman-teman yang lainnya.
“Kriseve.. kok jahat sama Laudy?” tanya Bella dan langsung membantuku berdiri.
Dia teman baikku, tapi sayangnya saat kami berusia 12 tahun ayahnya pindah
tugas, jadi mereka sekeluarga harus ikut pindah rumah. Janji kami untuk
selalu bersama dalam suka dan dukapun mustahil untuk terjadi.
“Kita berhenti saja, Laudy terluka,” ujar Anwar, teman dekat Kriseve hingga
sekarang.
“Cengeng!!! Jatuhnya pasti disengaja. Dasar Cewek !!! Au memang cengeng. Mending gak usah
ikutan kalau akhirnya gak mau jadi buaya, sedikit-sedikit teriaknya 'AU',”
“Akukan takut, Hiks..kamu hanya terus mengejarku, padahal masih ada Bella ,Anwar ,Senja, Mentari, Liksa, hiks. .. apa salah Laudy? hiks"
“Lah?? Terserah aku, kamu harus jadi buaya lalu mengejar aku trus aku lagi yang
jadi buaya lalu mengejarmu!”
“Eve jahat!!! Pokoknya kita musuh!!! Jangan cakapin Laudy, gak usah pulang
bareng Laudy lagi!!!”
“Dasar cewek cengeng!!! Aku juga gak mau punya temen cengeng!!!”
Sebelum malam tiba, permainan harus berakhir diiringi oleh langkahku pergi, aku berlari sejauh mungkin. Jika diingat, sebegitu pengecutnya aku dulu, tak heran jika saat inipun aku masih pengecut. Lari dari masalah juga mengutuk keadaan yang tak pernah berpihak.
Sejak hari itu, aku pulang sendirian. Jika bertemu, kami hanya memalingkan muka. Walau umur kami masih seumuran jagung, masih berusia 10 tahun. Tapi hari itu, aku memegang utuh perkataanku. Bukan hanya sekali, tapi di permainan yang lain, dia hanya mau mengejarku, bahkan mencariku saat bermain petak umpet lalu tertawa terbahak-bahak saat aku bertukar menjadi penjaga selanjutnya. Tapi, kali itu aku putuskan, tidak mau bermain-main dengannya. Bersamanya membuatku lelah! Sejak hari itu hingga kini, tiada lagi candaan yang terlontar.
Sejak hari itu, aku pulang sendirian. Jika bertemu, kami hanya memalingkan muka. Walau umur kami masih seumuran jagung, masih berusia 10 tahun. Tapi hari itu, aku memegang utuh perkataanku. Bukan hanya sekali, tapi di permainan yang lain, dia hanya mau mengejarku, bahkan mencariku saat bermain petak umpet lalu tertawa terbahak-bahak saat aku bertukar menjadi penjaga selanjutnya. Tapi, kali itu aku putuskan, tidak mau bermain-main dengannya. Bersamanya membuatku lelah! Sejak hari itu hingga kini, tiada lagi candaan yang terlontar.
Kini, aku ingin kembali ke masa itu. Tapi, aku takut memulainya terlebih
dahulu, Yang kulakukan hanya memerhatikannya dari balik jendela rumah. Jika dia
menyadarinya, dia hanya melirikku sinis dan aku hanya bisa bertingkah seolah
tidak melihat ke arahnya lalu aku kembali menyesal 'Mengapa aku tak bisa memulai
terlebih dahulu?'. Mungkin aku takut, sebab akulah yang memulai , terlebih lagi,
aku masih ingat kata-kata pedas yang kulontarkan 'kita musuh' dan berakhir dengan balasan kejinya “Cewek cemen” “Cewek cengeng” “Gak usah ikut main!” . Kata-kata sederhana itu
mampu mematahkan semangatku. Sejak perkataan itu, dia tidak lagi bermain
denganku. Mungkin dia teramat membenciku.
“Kriseve Rese !” menjadi gelar agung untuknya. Sungguh sangat disesalkan,
mengapa hanya karena hal kecil, kami berakhir seperti ini?
Hom pim pa alla u gambreng nenek mel2 pake baju rombreng...
BalasHapusHahahaha kalau aku yg make udah biasa @prasila..
BalasHapusMak lam**rnya baru luar biasa.. .😂😂